“Tetekku cakep nggak, Mas?”
Kancing blouse itu kau buka. Lalu blouse itu, yang kau sampirkan di sandaran kursi. Semua dalam gerak wajar tanpoa niat menggoda. Tak bergegas seolah diintip. Tak berlama-lama seperti striptease.
Tinggal bra. Lalu kau balik badan. Tanganmu membuka kancing belakang. Tak kunjung bisa. “Tolong dong, Mas,” pintamu.
Aku mendekat. Membukanya. Lancar. Karena sudah terlatih. Bra terlepas, kedua sisi di punggung itu merenggang, masing-masing mengarah ke lengan. Bra hitam, kontras dengan punggung putih oriental.
Tiba-tiba kau membalikkan badan. Aku kaget tapi tak sampai terlonjak. Seingatku aku tersenyum. Ah tidak, mungkin nyengir. Belum sempat berkata-kata kau sudah menanya, “Tetekku cakep nggak, Mas?”
Aku tenang. Tak gugup. Sejenak menatap keindahan itu. Aku lupa ini sepasang payudara keberapa yang pernah kulihat.
“Bagus, Lan,” kataku. “Firm,” lanjutku.
“Really?” katamu seolah tak percaya, tapi binar matamu pancarkan bangga.
Aku mengangguk. Tetap duduk di atas meja komputer itu. “I like your nipples, Lan. Reddish. Small,” kataku.
“What about my size, Mas?”
“Nice. I think it’s 34 in A cup.”
Sempat kau rabai sendiri kedua putingmu. Lantas kau putar pelan bukit yang kiri, yang ada tahi lalatnya itu. Lalu kau tertawa. Aku juga. Lalu kau ambil daster. Tak terjadi apa-apa. Lalu aku pulang. Kecupkan ciuman selamat malam di pipi.
Setahun lebih sebulan itu berlalu. Kita terus berteman. Tak pernah terjadi apa-apa di antara kita sebagai lelaki dan perempuan. Tapi gosip bilang kita ada affair.
Barusan aku terima SMS-mu mengulang empat-lima kali pertanyaan lisan selama setahun: “knapa sih dulu mas gak terangsang wkt i showed my breast?”
Jawabanku tetap sama: aku juga nggak tahu kenapa, bahkan dalam mimpi pun tak terbawa. Padahal kamu cantik. Sexy pula. Putih, 165 cm, langsing, mata segaris nan memesona.
Padahal kamu cantik. “pdhl aku cntk sexy kan mas?” ulangmu, kali ini via SMS.
Inilah jawabanku yang pasti kau harapkan tapi sekian lama aku tahan: “pdhl aku tertarik sm km.”
Lalu kau segera meneleponku. Kita sama-sama tertawa. “Sebentar lagi giliranku, Mas,” katamu. Aku tahu, kau sedang mengantre di ginekolog Biran Affandi.
Duhai pengantin baru, songsonglah hari-harimu sebagai calon ibu. Sebulan setelah married kau berisi dan langsung kabari aku. “Mas orang kedua yang tahu setelah Nancy,” katamu. Nancy itu kakakmu.
Adakah lelaki yang tak ku kenal itu telah kau kabari juga? “Mas nggak usah nanya soal yang nggak penting,” katamu.
6 Tanggapan
Sabtu 2 Desember 2006 pukul 13:51:26
KEEREEENNNNNNNNNNNNN….
Rabu 21 Maret 2007 pukul 14:57:18
ah…….pernah aku’berusaha’ seperti itu cuman saat itu nafsuku yg menang………dan ‘pertemanan’ itu luruh seiring menyatunya dua tubuh…….Selamat untuk Anda yg tetap sebagai ‘pemenang’!
Jumat 22 Juni 2007 pukul 0:32:02
Ketahuan deh masih cupu. 34 A tuh berarti tetek kecil. Ukuran A adalah ukuran cup terkecil. B dan C yang lumayan. Payah, ukuran BH aja kagak ngarti!
Senin 6 Agustus 2007 pukul 12:10:24
Hik…hik…hikkkk..sediihhhh banget…
Nasibku sama spt Pak Walikota, selalu jadi pecundang…
Kenapa aku begitu lemah….
Kamis 13 September 2007 pukul 14:26:45
ceritanya bagus tapi gak masuk akal,anuku aja gak tegang
Jumat 29 Agustus 2008 pukul 8:11:54
gw juga nih kagak tegang sama sekali