Minggu 17 September 2006...7:54:00

Cerai Karena Rokok

Lompat ke Komentar

Bau rokok. Tepatnya rokok putih. Bikin rumah semakin tak nyaman. Sudah tiga tahun. Budi tak nyaman dengan semua itu. Dulu ada janji sebelum menikah, Tati akan berhenti merokok. Nyatanya tidak. Pernah mengurangi tapi kemudian menjadi lagi.

Memang, Tati pembersih. Tak pernah ada asbak dengan puntung menggunung dan kaca meja bertaburan abu. Tapi bau itu. Bau asap rokok putih itu.

“Tiga tahun aku dihina, dicuekin, nggak diturutin. Konsensus udah dilanggar. Gara-gara merokok dia susah hamil,” Budi menyumpah dalam hati.

Sudah lima hari mereka saling berdiam diri. Cekcok terakhir sungguh memanas. Pangkal penyebab ya rokok Tati itu.

“Cerai, kayaknya lebih bagus,” Budi membatin. Pakai pengacara itu lebih mudah, katanya dalam hati.

Kamis pukjul sepuluh malam itu Tati belum sampai di rumah. Ada product launching oleh kantornya di Hotel Nikko Jakarta.

Sendirian di rumah, pembantu yang hanya bekerja pagi sampai malam sudah pulang, berarti leluasa untuk berbicara dengan Tono, teman kuliah yang sekarang jadi pengacara. Tono sobat sejati.

Dia menelepon Tono ke kantornya setelah terlebih dahulu mengirim SMS mau bicara panjang dan penting.

“Oke Bud, akunya sih akan mungut biaya dari kamu. Kalau kamu sudah berbulat tekad aku juga nggak akan mengupayakan rekonsiliasi. Tapi maaf Bud…”

“Maaf apaan Ton?”

“Maaf Bud, kamu selama ini kan nganggur? Posisimu lemah. Istrimu aktif di luar, pulang rumah sudah malem. Lima hari dalam seminggu kalian cuma ketemu sebentar. Artinya meleknya dia juga sebentar. Ngerokoknya nggak sebanyak kalau di luar rumah kan?”

Tinggalkan Balasan