Rabu 27 September 2006...0:39:03

Memanjat Genting

Lompat ke Komentar

Aku ingin ke sana. Ke puncak atap. Melihat sekeliling. Untuk berteriak. Sudah 20 tahun kuangankan. Tak pernah kesampaian. Orang-orang sialan itu menahanku, menghalangiku. Berbahaya, katanya. Berlumut dan licin, katanya. Kalau jatuh bagaimana, katanya.

Akhirnya saat itu tiba. Kuambil tangga bambu milik tetangga. Kusandarkan pada pohon mangga di halaman kiri rumah. Aku memanjat. Setahap. Naik lagi. Setahap. Terus dan terus. Mencapai talang.

Kuraba genting. Kasar. Ada yang berlumut. Kucium, ada bau tanah. Kunaikkan kaki. Agak licin. Lalu kulepas sandal. Hup! Aku naik ke genting. Merambat. Kaki gemetar. Terus merambat. Sluttt slyutttt sempat terpeleset. Tak apa. Itu pelajaran berharga. Aku tak menyerah.

Selama merambat naik aku tak melihat sekeliling. Aku konsentrasikan diri pada pendakian. Aha! Puncak telah tergapai. Aku tiba di wuwungan, lalu ke tengah, ah tak terlalu tengah agar tak menyentuh tiang T milik PLN, karena aku takut kesetrum. Padahal ada layang-layang tersangkut di sana.

Angin semilir. Ya, di atas banyak angin. Kulihat sekeliling. Jemuran tetangga depan, di halaman samping, terlihat jelas. Anjing tetangga kiri rumah tiduran di bawah jendela. Motor tua rusak tetangga kanan masin tersandar penuh debu dan karat di bawah pohon belimbing.

Ya, inilah puncak. Puncak rumah. Dua puluh tahun kuangankan untuk menaikinya tapi selalu dihalangi. Dua puluh tahun tahun sejak aku berusia lima.

Kutengok arloji. Pukul empat sore lebih lima puluh menit. Tak terasa sudah sepuluh menit aku di puncak atap rumahku sendiri.

Ada kepuasan, ada kemenangan, ada kelegaan. Sudah saatnya turun. Tapi aku merasa perlu melakukan sebuah perayaan kecil. Maka tanktop putih itu aku lepas lalu kulemparkan ke arah layang-layang tersangkut di tiang T milik PLN di wuwungan. Passing yang tepat. Tak percuma aku dulu suka basket.

Aku tak lagi berbaju. Padahal aku no-bra, seperti biasa kalau di rumah. Kedua putingku mengeras oleh embusan angin. Ingin aku telanjang, melepaskan short-ku, tapi susah sekali kulakukan diwuwungan karena aku takut jatuh.

“Hoiii susumu bagus! Aku suka!” suara dari loteng rumah seberang terdengar. Anak kos, mahasiswa tahun pertama itu cengar-cengir melihatku. Kuangkat lengan agar payudara 34c milikku menegak. Dia acungkan jempol. Lalu melanjutkan baca koran. Busyet!

Terdengar suara batuk. Pak tua tetangga kanan melihatku dari jendelanya. “Jadi gini ya Mam hasil sekolah S2 filsafat?” tanyanya dengan suara keras kepada istri yang memangku kucing di beranda samping.

Saat itu aku ingin masturbasi.

1 Komentar


Tinggalkan Balasan