Dia menyebalkan. Setiap pagi memutar dangdut. Kencang sekali. Pintu rumah di ujung petak dia buka, suara langsung menyeberang ke jendelaku. “Bang SMS siapa… ” ah kurang ajar, itu terus yang diulang.
Aku memang penghuni baru. Tiga bulan sudah aku di Gang Kober yang busuk itu. Warganya senang menyetel kaset keras-keras seolah pagi hari adalah pasar malam.
Aku tak tahan. Pagi saat orang bangun adalah saat aku nyenyak tidur, menjemput mimpi, bertemu pangeran tampan kaya baik hati yang akan membelikanku rumah 12 kamar dengan kolam renang seperti di Simprug Golf. Hidup sebagai pelacur adalah malam tidak tidur. Setiap pagi aku ngantuk.
Sudah kuputuskan. Aku harus mengentikan gangguan. Dengan membunuhnya. Kuambil pisau di dapur Nyak Suti induk semangku.
Mantap niatku, tegap langkahku. Aku datangi ujung rumah petak berisi enam pintu itu. Lagu “Bang SMS…” masih berteriak mendayu.
Aku menyeruak masuk. Perempuan 40-an yang selalu berdaster batik lusuh itu tergolek di sofa murahan berwarna hijau lumut yang berbau ompol. Kusergap dia. Kuhunjamkan pisau ke perutnya dan lehernya.
Aku tak mendengar jeritan. Tak melihat darah membasahi sofa bulukan dan karpet plastik murahan.
Lima kepala perempuan tetangga nongol di pintu. Mereka saling pandang lalu angkat bahu.