Minggu 8 Oktober 2006...12:53:36

Setiap Pagi di Stasiun Kalibata

Lompat ke Komentar

Aku naik dia juga naik. Aku pakai kemaja putih dia pakai blus putih. Aku pakai baju biru dia pakai baju biru. Kami saling tatap lalu mengangguk dan tersenyum.


Begitu setiap pagi di Stasiun Kalibata. Dalam jejal sesak KRL kami tetap dekat, tapi tak saling tatap, tak saling bicara. Masing-masing dari kami melamun.

Aku turun di Stasiun Beos. Dia juga. Selalu begitu. Selama sepuluh tahun. Aku ingat awal melihatnya dulu: bersih, tanpa jerawat, berkulit terang, langsing. Sekarang pun masih begitu, hanya saja tampak lebih tua. Usianya sekarang sekitar 30, sebaya denganku.

Aku bekerja di Pasar Pagi. Dia juga. Toko kami bersebelahan. Majikannya pernah menjadi istri majikanku. Kedua majikan kami tak pernah berbicara.

Sore aku menunggui majikan menutup rolling door toko. Dia juga. Lalu kami ke stasiun, berjalan kaki dengan gegas, tanpa bicara. Lalu kami naik gerbong yang sama. Turun di tujuan yang sama: Kalibata. Kami berpisah cukup dengan saling tatap, lalu mengangguk dan tersenyum.

Esok pagi kami tak bertemu karena itu hari Minggu. Toko kami selalu tutup. Tapi Senin kami akan bertemu. Aku tak tahu siapa namanya, di mana rumahnya, apakah sudah bersuami atau belum. Aku tak tertarik.

& Komentar


Tinggalkan Balasan