Aku naik dia juga naik. Aku pakai kemaja putih dia pakai blus putih. Aku pakai baju biru dia pakai baju biru. Kami saling tatap lalu mengangguk dan tersenyum.
Begitu setiap pagi di Stasiun Kalibata. Dalam jejal sesak KRL kami tetap dekat, tapi tak saling tatap, tak saling bicara. Masing-masing dari kami melamun.
Aku turun di Stasiun Beos. Dia juga. Selalu begitu. Selama sepuluh tahun. Aku ingat awal melihatnya dulu: bersih, tanpa jerawat, berkulit terang, langsing. Sekarang pun masih begitu, hanya saja tampak lebih tua. Usianya sekarang sekitar 30, sebaya denganku.
Aku bekerja di Pasar Pagi. Dia juga. Toko kami bersebelahan. Majikannya pernah menjadi istri majikanku. Kedua majikan kami tak pernah berbicara.
Sore aku menunggui majikan menutup rolling door toko. Dia juga. Lalu kami ke stasiun, berjalan kaki dengan gegas, tanpa bicara. Lalu kami naik gerbong yang sama. Turun di tujuan yang sama: Kalibata. Kami berpisah cukup dengan saling tatap, lalu mengangguk dan tersenyum.
Esok pagi kami tak bertemu karena itu hari Minggu. Toko kami selalu tutup. Tapi Senin kami akan bertemu. Aku tak tahu siapa namanya, di mana rumahnya, apakah sudah bersuami atau belum. Aku tak tertarik.
& Komentar
Rabu 29 November 2006 pukul 8:30:13
Saya dulu juga sering menempuh rute KRL Kalibata-Kota tapi gak ada penumpang yang saya ingat tampangnya. Yang saya ingat dan agak kenal cuma penjual teh botol langganan, tempat saya numpang duduk di emplasemen.
Kamis 22 Februari 2007 pukul 16:00:30
jam berapa ketemuannya..? saya tak ngikut…:D
Jumat 14 November 2008 pukul 8:47:32
waduh .. aku gak pernah ketemu sapa sapa yang samaan .. habis kalo di kereta, suka kelewat cuek .. he he ..