Ingin aku lepas dari jejalan lamunan dan fantasi itu. Tapi gagal. Kucoba melepaskan diri tetapi semua ingatan itu sudah menjelma sebagai gurita amis yang belalainya menangkapku. Aku ingin bebas, lalu membunuh teknisi homo itu.Kalau mau iseng atau selingan ada caranya, dia bilang. Nggak akan ketahuan, janjinya. Aku suka saja. Capek dan jenuh aku jadi operator sekalian respsionis sudut di lantai 32 ini. Lantai sepi hanya ada satu tenant, kantorku sendiri. Tiada pelintas. Yang datang hanya kurir.
Itulah yang satu setengah tahun kujalani. Dengan rutinitas memuakkan, setiap pagi menyapa orang kantor dengan selamat pagi, tapi hanya beberapa yang mau menyapa balik dengan menyebut namaku, “Pagi juga Mia.” Hanya satu orang yang mau menyapaku duluan, “Pagi, Mia.” Dialah direktur utama yang tidak setiap hari ngantor.
Si homo yang pandukan cara, berikan sederet kode panjang, gabungan angka, bintang, dan pagar. Total ada 25 kali pencetan. Tinggal pilih extension yang aktif seperti ditunjukkan di display aku bisa nguping pembicaraan telepon.
Kalau mau iseng atau selingan, katanya. Itu yang kudapatkan dari terminal PABX baru. Kebetulan Vendornya kirim teknisi homo teman sepupuku itu.
“I’m wet, Bang,” itu kata kunci Nina bagian keuangan setiap kali teleponan sama tunangan yang tugas di Bontang. Dari kupingan aku tahu pada setiap hari phonesex berarti Nina sudah ganti celana dalam, minimal sekali.
Berbulan kunikmati nguping. Aku tahu jadwal haid Nina. Tiga hari sebelum dapat dia sangat horny. Aku tahu dia kadang ke toilet untuk masturbasi. Semua karena kupingan.
Berbulan kudapatkan kupingan. Aku tahu Pak Andy selalu ditelepon Citibank, HSBC, Standard Chartered dan Bank Mandiri karena tagihan kartu kreditnya tak pernah lunas. Aku tahu Vonny punya selingkuhan, brondong di gedung seberang. Aku tahu Bambang sering menelepon ibunya dengan biaya kantor. Aku tahu Rini dipusingkan oleh beberapa ipar pemorot yang nganggur. Aku tahu masakan kesayangan Mas Hedi adalah lodeh karena itu yang dipesankan ke istrinya yang berjilbab.
Berbulan aku ketagihan karena makin lama makin mengasyikkan, makin lama makin menyenangkan, dan makin lama aku tahu bahwa mereka yang bergaji besar pun menghemat pulsa untuk SMS maupun menelepon, makin lama semua telepon masuk sudah langsung ke extension masing-masing sehingga tugasku berkurang.
Mulanya semuanya adalah hal baru, tapi lama-lama topiknya bisa ditebak. Tapi aku tak kunjung bosan. Ada saja yang menarik.
Ohhh yeahhh, ada juga yang baru. Vicky jarang menerima telepon. Manajer IT itu pendiam, selalu terkurung dalam ruang server yang dinginnya minta ampun. Akhirnya aku tahu, dalam usia 32 dia sudah jadi single parent. Ayah tunggal yang secara nyata karena istrinya minggat.
Ini bulan keenam aku nguping. Aku mulai selektif. Tapi seminggu belakangan aku gelisah. Semua kupingan hadir dalam mimpi, kadang berdesakan, bukan hanya berupa suara tetapi juga film di otak. Pertengkaran suami istri, anal sex, debt collector, anak autis, ibu mertua cerewet, petugas asuransi, semuanya setia meracuni mimpiku. Apa yang sebelumnya hanya suara akhirnya menghadir sebagai tayangan dalam mimpi.
Istri Alex akan mengancam potong penis suaminya. Dia hadir di mimpiku dengan mulut berdarah menggigit potongan penis segar. Veronica bersetubuh dengan kuda. Harjoko membenturkan kepala istrinya ke tembok. Hasymi memperkosa pembantu. Pak Andy ditampar istri di Plaza Senayan, disoraki orang-orang. Nina masturbasi di ruang rapat, telentang di meja dengan vibrator durian, ditonton oleh office boy yang memangku kucing.
Yang nyata dan palsu bercampur dalam mimpiku, malam demi malam, akhirnya apa yang kudengar menjadi tanaman menjalar dalam alam tidur. Berkembang melebihi batas imajinasiku, tanpa bisa kukendalikan.
Kucari teknisi homo itu. Dia sudah keluar sekarang mukim di Bali. Senin kemarin kuputuskan untuk menghentikan kupingan. Kertas contekan sandi aku musnahkan di shredder.
Tapi dua malam ini mimpi menyesakkan masih mengisi tidurku. Tentang orang-orang kantor yang gila. Nina jadi lesbi, memperkosa Vivian dengan tabung pemadam api. Pak Sigit menyembelih anjing kesayangannya lalu memakan dagingnya mentah-mentah. Harsono jadi homo, bermain sama Lukito anak magang. Headsetku untuk nguping berubah jadi ular tapi kadang berubah jadi penis hitam penyemprot sperma bernanah.
Siang ini tart ultah Mimi datang. Terlihat olehku sandal jepit kotor berlumpur dan tissue bekas pakai dari toilet dalam kardus tart, bercampur pembalut wanita bekas pakai. Aku ingin membunuh homo itu!
1 Komentar
Selasa 19 Februari 2008 pukul 17:07:32
Broetaaaaaaaaal poen !
Sangar toelen kowe boeng !