Namaku Sutrisno. Hanya satu nama. Panggilanku Trisno, Tris, dan No. Akhirnya aku memiliki nama belakang sebagai nama keluarga dan jadilah Sutrisno Legowo. Nama belakang diambil dari ayahku yang aku catatkan ketika kuliah ke Los Banos Filipina.
Namaku Sutrisno. Nggak keren, kata teman-teman. Generik, pasaran, ada bertumpuk-tumpuk nama itu dalam buku telepon. Aku juga heran, hari gini masih ada nama Sutrisno untuk lelaki berusia di bawah 30, hidup di kota besar bernama Jakarta, di sebuah lingkungan bukan kompleks, dengan banyak pohon, bukan rute angkutan umum, tapi bajaj melewatinya. Lebih penting lagi rumahku bagus, garasi cukup untuk empat mobil, ada kolam renang.
Namaku Sutrisno. Aku bungsu dari empat bersaudara. Si sulung bernama Wahyuni (panggilan: Yuni, Yun). Nomor dua bernama Martono (Tono, Ton, Tonil). Nomor tiga adalah Wardoyo (Doyok). Semua hanya satu nama. Tidak sekampungan Paimin, Legiman, Slamet dan Ponirah, tapi nama kami memang kurang keren.
Aku sekarang di World Bank. Gajiku bagus. Penampilanku oke. Tapi namaku tetap Sutrisno.
Aku kurang pede dengan namaku. Begitu pula kakak-kakaku. Tadi malam sambil menikmati masakan Lebanon kami sepakat akan ganti nama. Apapun kerepotan dan risikonya, termasuk jika harus berantem dengan suami/istri masing-masing (aku lajang) dan terlebih lagi dengan Ibu (ayah sudah wafat).
Nama ibuku Tini. Aslinya Sutini. Dia doktor biologi. Ayahku dulu direktur perkebunan BUMN merangkap dosen ekonomi.